Friday, August 2, 2013

Pergi




S
emua hal tak hanya datang secara kebetulan. Rencana tuhan selalu ada. Skenario yang tecetak rapi telah siap untuk kita mainkan. Meski hati kita berontak, skenario itu tetaplah lebih kuat. Ini urusan Tuhan. Sekedar mengingatkan.


Ini bukan masalah siapa yang kau kenal lebih dulu. Ini masalah siapa yang mengenalmu dan tetap bertahan tegas dalam memilihmu. Ia yang datang, tanpa pernah berpikir hendak pergi…

Ini seleksi alam. Jika kau dapat bertahan lebih lama dari orang lain, dan tak sekalipun kau berpaling. Dia pasti mempertimbangkanmu.

Jika rasa telah membulat, meski seribu kali kau bilang “PERGILAH” segumpal daging yang sensitiv itu akan tetap bilang “JANGAN PERGI”. Ya, mungkin ini sering terjadi, ketika hati dan lisan tak sejalan. Mereka berkelahi dalam diam, mengusik benakmu yang semula tenang. Ini rasa, masalah rasa. Kutanya solusinya apa?

Banyak orang yang berusaha mempertahankan, tetapi berakhir sakit jua. Jadi, apalah dayaku. Aku tak akan pernah menahanmu. Sekalipun aku ingin. Meski ku tau aku akan sakit jika salah melangkah. Kepasrahanku membuat diriku ragu, apakah yang kulakukan ini salah? Apakah aku harus mengikuti kebanyakan orang yang menahan orang lain untuk tidak beranjak pergi dari hidupnya?

Mungkin dapat disebut perjuangan. Tapi, jika hanya salah satu saja yang memperjuangkan? Tak kan kah pihak lain merasa tersakiti?

Aku hanya membungkam. Seribu tanda tanya seakan menghujam sadarku. Aku akan tetap pada jalanku. Pergilah, jika kau memang ingin pergi. Aku pun akan pergi jika ku ingin pergi. Tapi jika nanti saat itu tiba, aku tak yakin  penyesalanku tak kan sia-sia. Pergi dariku atau darimu berarti tak ada alas an untuk kembali padamu atau padaku, apalagi jika kau atau aku sempat berpaling walau sejenak…


Baginya itu tak termaafkan. Karena ia hanya bisa menerima  satu. Cukup satu saja. Tak lebih. Karena ia tau, jika lebih dari satu, semua pihak akan merasakan percikan api dihatinya..

No comments:

Post a Comment